Angin Kencang Rusak Beberapa Rumah

Angin kencang yang terjadi sejak Rabu (9/1) malam hingga Kamis (10/1) merobohkan satu rumah dan merusak dua rumah warga di lokasi berbeda. Selain merobohkan rumah, angin juga menumbangkan beberapa pohon.
Rumah roboh diketahui milik Wasdi, 37, RT 3/RW I Desa Bulak Baru, Kecamatan Kedung. Dua rumah rusak berat masing-masing milik Mustam, 72, RT 1/RW IV Desa Pekalongan, Kecamatan Batealit dan Rifa’an, 35, RT 5/RW VI, Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan. Sementara pohon tumbang di beberapa jalan protokol Kudus-Jepara dan Batealit-Tahunan.
Korban sekaligus putra dari Mustam, Ahamad Munif, 37, menceritakan sekitar pukul 04.00 tiba-tiba pohon kelapa dan pohon rambutan di sampaing kanan rumah roboh dan jatuh tepat di atas atap rumahnya. Akibat tertimpa pohon inilah atap rusak parah dan mematahkan kayu-kayu penyangga geteng.

“Saat itu dirinya sedang tiduran. Sementara kedua orang tua saya pergi ke masjid,” ujarnya.

 

Angin kencang yang terjadi sejak Rabu (9/1) malam hingga Kamis (10/1) merobohkan satu rumah dan merusak dua rumah warga di lokasi berbeda. Selain merobohkan rumah, angin juga menumbangkan beberapa pohon.
Rumah roboh diketahui milik Wasdi, 37, RT 3/RW I Desa Bulak Baru, Kecamatan Kedung. Dua rumah rusak berat masing-masing milik Mustam, 72, RT 1/RW IV Desa Pekalongan, Kecamatan Batealit dan Rifa’an, 35, RT 5/RW VI, Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan. Sementara pohon tumbang di beberapa jalan protokol Kudus-Jepara dan Batealit-Tahunan.
Korban sekaligus putra dari Mustam, Ahamad Munif, 37, menceritakan sekitar pukul 04.00 tiba-tiba pohon kelapa dan pohon rambutan di sampaing kanan rumah roboh dan jatuh tepat di atas atap rumahnya. Akibat tertimpa pohon inilah atap rusak parah dan mematahkan kayu-kayu penyangga geteng.
“Saat itu dirinya sedang tiduran. Sementara kedua orang tua saya pergi ke masjid,” ujarnya.
Akibat reruntuhan atap rumah, Munif mengalami luka robek di bagian kepala dan luka-luka ringan di wajah dan lecet di kaki. Setelah kejadian itu ia meminta pertolongan warga untuk memangkas pohon yang menimpa rumah dan beberapa pohon kelapa miliknya. Sekitar pukul 06.00, batang pohon kelapa berhasil di gergaji dan warga bergotongroyong perbaiki rumah.

“Semua pohon kelapa yang ada di samping rumah saya suruh tebang. Khawatir kalau nanti roboh lagi,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, sebelum kejadian angin kencang sudah terjadi sejak Rabu sore dan masing berlangsung hingga pagi hari. Perasaan was-was sudah ia rasakan sebelum kejadian. “Sejak magrib (Rabu) angin berhembus kencang, suaranya wus-wus kayak suara gemuruh. Tidak tahunnya pohon kelapa samping rumah roboh,” terangnya.
Kasi Kedaruratan pada Badan Penanggulangan Bencana Alam daerah (BPBD) Jepara M Toha menambahkan selain merusah rumah di Desa Pekalongan. Satu rumah warga masing-masing di Desa Karangrandu dan Desa Bulak Baru. Menurut korban yang ia temuai, Rif’an, bahwa kejadian rumahnya tertimpa pohon mangga sekitar pukul 05.00 angin berhembus kencang dari arah barat. Tidak kuat menahan terpaan angin, pohon mangga di depan rumahnya ambruk dan menimpa rumah bagian ruang tamu. “Seluruh genting dan atap ruang tamu rusak parah,” tandasnya.
Sekitar pukul 06.30 pasukan penolong (Basarnas, BPBD Jepara, Sar Jepara, Jepara Rescue, Tagana, Ubaloka, TNI, dan Polsek) dibantu warga masyarakat bergotongroyong memotong batang pohon mangga dan memperbaiki rumah. Beruntung saat kejadian korban berada di luar rumah.
Sekretaris Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Jepara Haryoto didampingi stafnya Susanto menambahkan sebelum dua kejadian itu, sekitar pukul 20.30 rumahnya roboh diterjang angin. Robohnya rumah tersebut diakibatkan diterjang angin dengan kondisi rumah terbuat anyaman bambu, kerangka rumah dari kayu doyo, atap rumah dari kayu sengon dan waru. Sekaligus rumah tanpa pondasi.
“Pemilik rumah mengaku sebelum kejadian, angin kencang berhembus dari arah barat,” tegasnya.
Atas musibah ini, pihaknya, membantu ketiga pemilik rumah bantuan masing-masing Rp 1 juta. Anggaran dana tersbut diambilkan dari bulan dana PMI.”Bantuan langsung diserahkan Bupati Jepara Ahmad Marzuqi,” ucapnya.
Atas kejadian ini, kerugian materi mencapai belasan juta rupiah. Karena rumah yang ruak berat dan roboh terbuat dari dinding kayu.

 

Dipublikasi di Berita terkini | Meninggalkan komentar

Tim SAR Selamatkan Korban Tercebur Sumur

Korban tercebur sumur, Sumanah binti Jaswan, 30, Dukuh Bulu, Desa Bategede, Kecamatan Nalumsari berhasil diselematkan tim gabungan pertolongan dari Basarnas, BPBD Jepara, TNI, dan Polisi setempat sekitar pukul 09.00, kemarin. Korban kemudian dibawa ke Puskesmas Nalumsari untuk kemudian mendapatkan perawatan.
“Saat dievakusi dari sumur, kondisi korban lemah dan ditemukan luka-luka di bagian kaki kanan,” terang Koordinator Pos Basarnas Jepara Agung Hari Prabowo.
Ia menjelaskan, pihaknya mendapatkan informasi dari keluarga korban bahwa sekitar pukul 05.00. Pihak keluarga korban  menginformasikan bahwa salah satu keluarganya sedang bermain di sekitar sumur rumah korban.
Mendengan kabar itu, sekitar pukul 07.30 tim Basarnas tiba dilokasi. Tim Basarnas, BPBD Jepara, TNI, Polisi, dan dibantu warga sekitar mencoba berusaha menolong korban. Usaha mengeluarkan korban dari sumur baru menuai hasil sekitar pukul 09.00. Korban berhasil diambil dari sumur dengan kondisi selamat. “Satu orang bersama tali kami turunkan ke sumur yang dalamnya sekitar 25 meter. Korban kemudian diambil dengan tali tersebut,” paparnya.
Saat ditolong, kondisi korban masih lemas dan mengalami luka di bagian kaki kanan. Akhirnya tim dan keluarga korban sepakat, korban dibawa ke puskesmas. “Korban diduga keterbelakangan mental. Saat bermain itulah, korban terpleset dan tercebur sumur. Kami bersyukur karena nyawa korban berhasil tertolong,” terangnya
Dipublikasi di Berita terkini | Meninggalkan komentar

Wisatawan Songgolangit Jepara Ditemukan Tewas

 wisatawan objek wisata air terjun Songgolangit di Desa Bucu, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, yang dinyatakan hilang ketika bermain di objek wisata tersebut ditemukan tewas, Rabu 2 Januari 2012 siang. korban bernama Sugianto (25), asal Desa Pasuruan, Kecamatan Jati, Kudus itu, ditemukan sekitar pukul 13.45 WIB, setelah dikabarkan hilang pada Selasa (1/1) pukul 16.30 WIB.

Tenggelamnya korban berawal ketika korban bersama enam rekannya sedang asyik berfoto-foto. Korban tiba-tiba terpeleset dan tercebur ke dalam sungai yang berada tepat di bawah air terjun songgolangit. Kondisi korban ketika ditemukan, katanya, mengeluarkan darah dari kuping, mulut, dan mata.

Pencarian korban, dimulai sejak sejak Selasa (1/1) sore hingga pukul 22.00 WIB. Kemudian dilanjutkan pada pagi hari sekitar pukul 05.00 hingga ditemukan Rabu siang. Proses pencarian korban yang dilakukan oleh tim gabungan,  SAR Jepara, UBALOKA, KSR PMI Cabang Jepara, BPBD Jepara, TNI dan Polri sempat mengalami hambatan karena aliran air terjun cukup deras dan pusaran di dasar air terjun sangat cepat, sehingga menyulitkan relawan untuk menyelam. Akhirnya pencarian jasad korban dilakukan dengan menggunakan jangkar perahu hingga ke dasar air terjun.

Sejumlah warga yang ikut menyaksikan proses pencarian juga ikut menghambat petugas, Jasad korban kemudian dibawa di Puskesmas Kembang untuk dilakukan visum. Hasil visum tim dokter, dijelaskan bahwa pada tubuh korban tidak ditemukan adanya tanda-tanda penganiayaan dan korban meninggal murni karena tenggelam. Jasad korban selanjutnya dibawa ke RSDU Kartini sambil menunggu keluarga korban.

Ketua  SAR  Jepara Totok Setyanto menambahkan, hari ini sekitar pukul 05.30 WIB juga ada salah seorang warga Desa Bategede, Kecamatan Nalumsari, Jepara yang bernama Sumanah (30) terjebur sumur dengan kedalaman 25 meter lebih.

Tim Badan SAR Nasional (Basarnas) Jepara yang diterjunkan ke lokasi kejadian, katanya, berhasil mengangkat korban dengan kondisi selamat sekitar pukul pada 09.00 WIB.

Dipublikasi di Berita terkini | Meninggalkan komentar

Seluruh Korban Tenggelam di Pantai Bandengan Ditemukan

Proses pencarian korban tenggelam di Pantai Bandengan (Alip Sutarto/Sindo TV)Satu dari lima korban tenggelam di obyek wisata Pantai Bandengan pada Minggu, 23 Desember berhasil ditemukan petang tadi. Korban ditemukan  dalam keadaan mengapung tidak bernyawa di sekira satu mil dari bibir pantai.

Korban adalah Roisul Umam (15), warga Desa Runting, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Usai dievakuasi dari tengah laut, korban dibawa ke RSUD Kartini Jepara, guna keperluan visum, selanjutnya dibawa ke rumah duka.

Dengan ditemukannya jenazah Roisul, berarti pencarian telah usai. Roisul merupakan korban terakhir yang sempat dicari oleh Tim Basarnas dan Relawan SAR Jepara.

Sebelumnya, empat korban tenggelam telah ditemukan dalam kondisi tewas. Mereka adalah Ali Mahudi (13), warga Desa Kelakah Kasihan, Kecamatan Gembong, Muhammad Habib Rahman (16), warga Desa Puncel, Kecamatan Dukuhseti. Kemudian, Ahmad Haris Nasution (15), warga Desa Bugel, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, serta Muhammad Yasin (15), warga Gembong, Kabupaten Pati.

Kelima korban tenggelam setelah perahu karet yang mereka tumpangi terguling akibat terhempas gelombang laut. Para korban tidak bisa berenang dan nahasnya juga tidak mengenakan baju pelampung. okezone.com

Dipublikasi di Berita terkini | Meninggalkan komentar

Waspada musim penghujan di Jepara

Memasuki musim penghujan, potensi ancaman bencana alam di Kabupaten Jepara meningkat. Diawali dengan sejumlah kejadian angin puting beliung, potensi bencana kemungkinan masih bisa terjadi. Tim SAR Jepara yang beranggotakan para relawan dari UBALOKA Pramuka, ORARI Lokal Jepara, KSR PMI  Jepara, mulai meningkatkan kesiap-siagaan . Seluruh potensi yang bisa digunakan untuk mengatasi persoalan-persoalan bencana alam mulai disiagakan.

Musim penghujan ini, peta bencana Jepara dimungkinkan mulai berubah. Kawasan yang selama ini menjadi langganan bencana banjir dan tanah longsor mulai mendapatkan perhatian. Namun demikian, daerah-daerah yang selama ini aman, tetap akan dilibatkan dalam program-program yang bersifat prefentif oleh BPBD Jepara.

Daerah-daerah klasik yang mengalami ancaman bencana banjir tetap terkonsentrasi di wilayah Jepara bagian Selatan. Daerah ini meliputi Mayong, Nalumsari, Welahan dan Kedung. Terutama kawasan yang menjadi DAS (Daerah Aliran Sungai) Kali Mayong, menjadi kawasan merah yang layak diwaspadai.

Kali Mayong yang berhulu di wilayah Kudus memang menjadi perhatian kami setiap kali musim hujan berlangsung. Kali Mayong mengalir di pinggiran selatan kawasan itu. Ini selalu berpotensi menimbulkan ancaman bencana,

Seluruh anggota Tim SAR Jepara diharapkan ikut memantau wilayah-wilayah potensi bencana di Jepara, wilayah Keling dan Donorojo sebagai wilayah yang rawan terhadap bencana banjir maupun tanah longsor. Tahun lalu, di Donorojo bencana banjir cukup merepotkan masyarakat. Selain menganggu kegiatan pertanian, banjir juga menimbulkan kerusakan pada beberapa jaringan infra-struktur yang ada.

Tim SAR Jepara bersama para relawan di Jepara, Tagana, Jepara rescue selama dua hari mulai Senin (19/11) kemarin, telah mengikuti Latihan Gabungan Penanggulangan Bencana yang diselenggarakan oleh SAR Daerah Jawa Tengah. Selain itu juga melibatkan para pemangku kebijakan dari Kabupaten Demak, Pati, Kudus, Rembang dan Jepara. Latihan gabungan dipusatkan di Pantai Bandengan Jepara.

Dipublikasi di Berita terkini | Meninggalkan komentar

Angin Puting Beliung di Jepara Hancurkan 93 Rumah

Ratusan rumah rusak dan satu roboh diterjang angin puting beliung di Desa Welahan, Kecamatan Welahan dan Desa Paren, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara.

“Angin kencang datangnya bersamaan dengan turunnya hujan, merobohkan rumah saya sampai rata dengan tanah,” kata Suripah (75), warga Dukuh Ngecup, Desa Welahan, Kabupaten Jepara, Senin, 12 November 2012. Rumah Suripah terbuat dari dinding papan kayu, tepat menghadap persawahan. “Sebelum rumah dibangun kembali, saya tinggal serumah dengan Muslikhin, anak lelaki saya.”

Angin kencang yang hanya berlangsung 10 menit itu, menurut Ali Fauzan, warga Desa Welahan, juga merusak 93 rumah. “Genting rumah-rumah berterbangan disapu angin kencang,” kata Fauzan.

Selain itu, atap gudang toko besi milik Marwan juga kocar-kacir diempas angin. Runtuhan dinding bangunan juga menimpa mobil pikap yang ada dalam gudang. Sedangkan di Desa Paren, Kecamatan Mayong, angin puting beliung merusak 21 rumah. “Kami bersyukur tidak ada korban jiwa,” kata Syukur, warga Desa Paren. Selain bangunan rusak, sejumlah pohon juga tumbang.

Tim SAR Jepara yang menerima laporan  melakukan koordinasi dengan BPBD dan langsung turun ke lapangan memberikan bantuan masyarakat dengan membersihkan sejumlah pepohonan yang tumbang dan rumah penduduk yang rusak.

“Tim SAR melakukan evakuasi begitu menerima laporan,” kata Muhammad Toha, Kepala Seksi Dararuta dan Logistik BPBD. Di Jepara terdapat 16 kecamatan rawan bencana.

Saat ini setiap kecamatan memiliki potensi bencana. Bencana yang sering terjadi di Jepara, selain angin pitung beliung, adalah bencana banjir dan abrasi laut.

Dipublikasi di Berita terkini | Meninggalkan komentar

Pesta Lomban

Tim SAR Jepara mengawal Pesta LombanAcaraPesta Lomban/ Kupatan di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Minggu (26/8) diwarnai tiga kali insiden kapal menabrak perahu nelayan atau sebaliknya. Dilaporkan bahwa kejadian itu memang tidak menimbulkan kerusakan berarti bagi kapal atau perahu maupun terjadinya korban jiwa.

Insiden tersebut terjadi ketika ratusan perahu dan kapal saling berebut untuk mendekati kapal pengangkut sesaji kepala kerbau, ingkung (ayam utuh), jajanan pasar, serta kupat dan lepat, serta rombongan Bupati Jepara Ahmad Marzuqi dan pejabat Muspida.

Tercatat, insiden tabrakan terjadi hingga tiga kali antara kapal satu dengan yang lain maupun antara perahu dengan kapal.

Insiden pertama terjadi antara kapal bermuatan ratusan penumpang dengan kapal lain yang mencoba mendekati kapal pengangkut sesaji. Kapal lain yang berada di dekat insiden terjadinya tabrakan, juga tidak mampu menghindar, meskipun insiden tersebut tidak sampai mengakibatkan kerusakan kapal.

Insiden serupa, terjadi ketika perahu yang mengangkut puluhan penumpang mencoba menghindari tabrakan dengan kapal yang berukuran besar dengan jumlah penumpang yang lebih banyak, justru menabrak kapal yang ada di depannya.

Beruntung, sejumlah insiden tabrakan antar kapal maupun perahu tidak mengakibatkan kerusakan kapal maupun perahu serta tidak menimbulkan korban jiwa.

Insiden tersebut, tidak menyurutkan niat para nelayan yang mengemudikan kapal maupun perahu untuk mendekati kapal pengangkut sesaji.

Untuk menghindari tabrakan, petugas dari Polisi Air Polres Jepara maupun Dinas Perhubungan Jepara, dan Tim SAR Jepara berulang kali mengingatkan nahkoda kapal maupun perahu yang berjumlah ratusan untuk berhati-hati dan memperhatikan keselamatan penumpang.

Akan tetapi, banyaknya kapal dan perahu yang mengikuti acara pelarungan mengakibatkan insiden tabrakan sulit terhindarkan.

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi mengaku, sempat khawatir dengan jumlah kapal maupun perahu yang mengikuti prosesi pelarungan sesaji di perairan Laut Jepara. “Syukur tidak ada insiden yang menimbulkan korban jiwa, karena acara pelarungan berlangsung lancar dan aman,” ujarnya. (antara)

Dipublikasi di Berita terkini | Meninggalkan komentar

Anggota SAR Jepara Perbaiki Perahu Fiber dilembur Setelah Sholat Tarawih

Memasuki bulan Ramadhan, sebagian temen2 anggota SAR Jepara mempunyai kesibukan baru, mempersiapkan pengamanan kegiatan Pesta Lomban Kabupaten Jepara Tahun 2012, salah satunya adalah memperbaiki perahu fiber yang rusak cukup parah akibat dihantam badai awal Tahun 2012 lalu.

Perahu fiber sederhana ini saat sekarang berada di Markas SAR Jepara Sanggar Bhakti Pramuka Kwarcab Jepara dalah proses pemeliharaan, dengan dipandu langsung oleh Ketua  Dalop SAR Jepara Darmanto secara bergantian mengerjakan bagian-bagian perahu yang perlu diservice.

Berbekal dengan belajar melalui dunia maya dan melakukan studi banding ke  pembuat perahu di Tedunan Jepara Darmanto Optimis akan menyelesaikan pekerjaan ini dengan  baik sesuai rencana, ” Kami telah belanja peralatan fiber ke semarang dan kegiatan ini belajar sekaligus langsung kerja ” ujarnya sambil terkekeh-kekeh. jika proyek ini berhasil  Darmanto berencana akan membuat satu lagi perahu berbnahan fiber, dan berencana akan mengembvangkan perahu jenis fiber ini, mengingat Kabupaten  Jepara dengan garis pantai 72 Km menjadikan sekitar 15.000 ribu nelayan mencari nafkah dengan menggunakan perahu, dan rata-rata perahu yang dimilikinya terbuat dari kayu disamping cukup mahal juga usianya terbatas, karena kayu gampang keropos. “Kami akan jajaki kemungkinan itu” ujar Darmanto bangga.

Dipublikasi di Berita terkini | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Tiga Kuburan di Kedung Diacak-acak

Pengacak-acakan tiga kuburan terjadi di Tempat Pemakaman Winong Desa Sukosono Kecamatan Kedung, Jepara. Ketiganya merupakan kuburan Gatot Sutanto (40), warga RT 15 RW 4, yang dikebumikan pada 23 Mei lalu, kemudian Paniman (60), warga RT 14 RW 4 (6 Juni), dan Sutris (70), warga RT 15 RW 3 (13 Juli).

Aksi oknum tak bertanggung jawab yang mengacak-acak tiga kuburan itu tak lama setelah ketiga nama tersebut dikuburkan. Pada kejadian yang menimpa kuburan Gatot dan Paniman, pihak keluarga dan warga sekitar masih menganggap tidak ada kejanggalan.

Tapi, ketika itu kembali terjadi pada makam Sutris, mulai ada kecurigaan. Bahkan, di makan Sutris dilakukan hingga dua kali, yakni pada malam ketiga dan kelima dari hari pemakaman.

Mulai resah dengan peristiwa itu, pihak keluarga almarhum Sutris bermusyawarah dengan Pemerintah Desa Sukosono untuk membongkar makam, kemarin. Tujuannya, untuk mengetahui kondisi jasad di dalam kuburan, apakah masih utuh atau tidak.

Adapun untuk dua kuburan lainnya yang juga diacak-acak tidak ada pembongkaran untuk diperiksa karena belum ada izin dari pihak keluarga.

Petinggi Desa Sukosono Suwono mengemukakan, hal itu diketahui kali pertama pada Selasa (17/7) pagi oleh warga. Warga pun melaporkan ke H Suharto, anak almarhum. Saat itu gundukan tanah yang sebelumnya rapi terlihat berantakan. Begitu pula dengan batu nisan yang telah bergeser.

Melihat kondisi tersebut, Suharto kemudian melaporkannya ke Pemerintah Desa. Hingga kemudian muncul keputusan untuk mengecek dengan membongkar makam. ”Saat itu, kami memutuskan untuk mengecek apa yang terjadi dengan jasad korban,” ujarnya.

Sekitar pukul 12.00, beberapa pekerja didampingi polisi dan TNI serta dokter membongkar makam tersebut, untuk melakukan visum. Hingga akhirnya diketahui, memang ada indikasi makam tersebut telah dibongkar orang tak bertanggung jawab.

Kepala Terpisah

Ketua Forum Komunikasi Polisi dan Masyarakat (FKM) Desa Sukosono Subhan mengungkapkan, hasil pemeriksaan kondisi jasad Sutris sudah tidak seperti semula.

Saat dibongkar kondisi kain kafan sudah tak beraturan, karena tali kafan sudah hilang. Selain itu, kepala almarhum sudah terpisah. ”Jadi baru digali sekitar 60 senitemer itu sudah ditemukan kepalanya. Dan, itu tidak menggunakan tangan,” katanya.

Ditanya, apakah yang menjadi motif ada orang yang melakukan hal itu, Subhan menyatakan belum bisa menyimpulkan. Dia menuturkan, ketika bertanya ke beberapa sesepuh desa, kalau untuk kesaktian biasanya hanya mengambil gelu di dalam kuburan kain kafan. ”Tapi, ini hingga sampai ada pemotongan kepala. Jadi, kami juga tidak tahu pasti digunakan untuk apa,” ucapnya.

Dengan kondisi itu, ujar Subhan, akan dilakukan rapat desa untuk menyikapi hal itu. Harapannya, bisa diambil langkah bersama agar tidak terjadi kembali hal serupa.

”Rencananya kami lakukan rapat nanti malam (kemarin- Red) untuk membahas hal itu. Entah itu ada ronda atau upaya lain nanti akan dibahas agar tidak terjadi hal serupa di waktu-waktu mendatang,” ungkapnya. (H75-57)

 

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Latihan Penanggulangan Bencana Linmas Jepara

Sebanyak 236 anggota Perlindungan Masyarakat (Linmas) di tiga Kecamatan yakni Pakisaji, Kedung dan Batealit Kabutaten Jepara mengikuti pelaithan Penanggulangan bencana. Pelatihan yang dihelat oleh Satuan Polisi Pamong Pradja (Satpol PP) Kabupaten Jepara ini dibuka oleh Camat Pakisaji Sumardi, S.Sos, SH .

Dalam sambutannya Sumardi berharapkan anggota Satlinmas dapat memiliki keterampilan dibidang pencarian dan pertongan saat terjadi bencana. Dengan demikian mereka dapat melayani masyarakat dengan lebih baik.

Adapun meteri yang disampaiakan meliputi vertical rescue, water rescue dan medical first responder (MFR) dengan melibatkan  tujuh instruktur dari personel Pos SAR Jepara.

Dipublikasi di Berita terkini | Meninggalkan komentar