Yang Tersembunyi di Semenanjung Muria

Gambar 1. Peta lokasi gempa di Semenanjung Muria pada 23 Oktober 2015

Rasanya belum begitu terlambat untuk sedikit mengulas tentang gempa yang terjadi di Semenanjung Muria beberapa waktu lalu. Gempa bumi yang terjadi pada 23 Okt 2015 pukul 01.10 memberikan pemahaman kepada kita, bahwa ada sesuatu yang tersembunyi di Semenanjung Muria. BMKG merilis bahwa gempa tersebut terjadi pada koordinat 6.39 LS dan 110.91 BT pada kedalaman 14 km dengan kekuatan magnitudo 5. Berdasarkan pola mekanisme kejadian, gempa Muria 23 Oktober lalu dipicu oleh sesar aktif dengan pergerakan mendatar dengan arah utara selatan. Beberapa dampak gempa dilaporkan oleh BPBD Jepara dan Pati, seperti longsor di Desa Pendem, Keling Jepara (Kompas, 24 Oktober 2015).

Beberapa waktu lalu, Pemerintah sempat merencanakan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di daerah Muria. Berdasarkan rekaman sejarah kejadian gempa yang relatif jarang terjadi dan jauh dari zona subduksi, menjadi alasan pembangunan PLTN ini. Akan tetapi, menurut Kertapati dan Sukahar (2010) dalam makalahnya yang dipresentasikan pada Seminar dan Pameran Himpunan Ahli Konsruksi Indonesia (HAKI) memaparkan bahwa setidaknya ada tiga gempa merusak yang pernah terjadi di semenanjung Muria. Ketiga gempa yang merusak tersebut adalah (1) Gempabumi Jepara terjadi pada 25 Desember 1821, (2) Gempabumi Semarang terjadi pada 19 Januari 1856, dan (3) Gempabumi Pati terjadi pada 12 Desember 1890.

Dari ketiga gempa diatas, gempa yang terjadi di Pati (1890) merupakan gempa yang terkuat. Berdasarkan laporan yang dipublikasikan dalam makalah ini, goncangan gempa Pati (1890) menyebabkan banyak rumah yang roboh dan jatuhnya beberapa korban jiwa. Kertapati dan Sukahar (2010) menjelaskan keterkaitan antara kejadian gempa ini dengan “shallow crustal faults” yang merupakan Sesar Semarang dan Lasem dengan arah relatif Timurlaut-Baratdaya.

Berdasarkan katalog sejarah gempa bumi yang di unduh di utsu catalog, beberapa gempa tercatat termasuk gempa pada 1890 sebagaimana yang dijelaskan oleh Kertapati dan Sukahar (2010). Gambar 2 menunjukkan posisi beberapa gempa yang pernah terjadi di sekitar Jawa Tengah, data sejarah gempa diperoleh dari utsu catalog. Jika diperharhatikan, posisi gempa 1890 (gambar 2) dan posisi gempa 2015 (gambar 1) sangat berdekatan. Sehingga ada kemungkinan, gempa yang terjadi pada 23 Oktober 2015 adalah perulangan dari gempa yang terjadi pada 1890.

Gambar 2. Peta topografi Jawa Tengah, lingkaran merah menandakan lokasi kejadian gempa berdasarkan utsu catalog.

Dan jika dibandikan dengan kejadian gempa yang terjadi dalam kurun waktu 2009-2013 di Jawa Tengah. Terlihat pola sebaran gempa yang dominan terjadi di bagian selatan. Terutama di sekitar sesar Opak, dimana kita masih ingat dengan gempa yang terjadi tahun 2006 di dekat kota Jogjakarta (gambar 3)

Gambar 3. Peta sebaran gempabumi tahun 2009 – 2013, data diperoleh dari BMKG.

Masih merujuk pada Kertapati dan Sukahar (2010), secara geologi wilayah semenanjung Muria ditutupi oleh sedimen yang umur geologinya sekitar Plio-Plitosin dan batuan volkanik dari formasi Muria. Sedimen yang terdapat di Muria telah terdeformasi dan mengalami rekahan tarik dan geser sehingga terlihat adanya garis-garis sesar yang mengindikasikan adanya pengaruh aktifitas tektonik pada umur geologi yang lebih muda. Menurut Smyth dkk dalam makalah ilmiahnya yang dipublikasikan tahun 2008 di Geological Society of America Special Paper 436, memaparkan beberapa kelurusan beberapa sesar seperti seperti sesar Lasem, sesar Opak dan sesar Muria Kebumen. Beberapa kelurusan sesar tersebut diperlihatkan pada gambar 4. Sesar Muria Kebumen sejalan dengan makalah ilmiah Satyana (2007) yang di presentasikan pada PROCEEDINGS, INDONESIAN PETROLEUM ASSOCIATION.

Gambar 4. Peta geologi wilayah Jawa bagian timur, diambil dari Smyth, dkk (2008).

Dari hasil tomografi dangkal yang dipublikasikan oleh zulfakriza, dkk di Geophysical Journal International tahun 2014, memberikan gambaran pola sebaran kecepatan gelombang tinggi dan rendah (gambar 5). Anomali kecepatan tinggi biasanya berkaitan dengan struktur geologi yang lebih keran seperti granit dan batuan karbonat. Sedangkan anomali kecepatan rendah berkaitan dengan endapan dan magmatisme. Pada bagian batas antara anomali kecepatan tinggi dan rendah biasanya diinterpretasikan sebagai pola struktur yang putus dan kemungkinan merupakan sesar.

Gambar 5. Peta tomografi berdasarkan korelasi silang bising seismic, pada periode 2 detik sampai 12 detik, dengan perkiraan sampai pada kedalaman 10 km. Gambar diambil dari Zulfakriza, dkk (2014).

Dari beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan di Jawa Tengah, menjadi gambaran bahwa masih banyak hal yang tersembunyi belum terungkap. Sesuatu yang tersembunyi bukan berarti tidak ada, akan tetapi mungkin karena keterbatasan pemahaman kita. Kita menyadari bahwa masih ada sumber-sumber gempa yang belum terpetakan dengan baik, sehingga belum dimasukkan dalam parameter pembuatan peta gempa Indonesia. Penelitian yang terintegrasi menjadi penting dilakukan untuk memahami sumber gempa dengan lebih baik. Sehingga hal-hal tersembunyi yang memungkinkan menimbulkan bencana bisa tersingkap dan kita bisa melakukan upaya mitigasi untuk mengurangi dampak risiko bencana yang ditimbulkannya.
Sumber : https://www.kompasiana.com/zulfakriza

Iklan

Tentang SAR JEPARA

Adalah tim Serach and Rescue Jepara yang dimotori oleh ORARI (ARES) - PRAMUKA (UBALOKA) - PMI ( KORP SUKA RELAWAN )
Pos ini dipublikasikan di Berita terkini. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s