Selamat Datang DI Site SAR Jepara

Assalamu’alaikum Wr. WB.

Semangat Pagi Kawan !!! Selamat datang, dan terima kasih anda teklah berkunjung ke Site SAR Jepara, Site ini kami bangun dalam upaya untuk memperkenalkan diri dan menjalin tali silaturohmi.

Memasuki tahun 2014 Indonesia boleh dikata luluh lantak dihajar berbagai macam bencana yang memporak-porandakan negeri yang gemah ripah loh jinawi, tukul kang sarwo tinandur lan murah kang sarwo tinuku. Pionir bencana dipegang Jakarta lalu  Manado, Sinabung, Tak mau ketinggalan di Jawa  Kelud unjuk gigi.

Banjir hampir merata dan Jepara tercatat sebagai banjir yang terbesar dan terparah se Jawa Tengah, ada apa dibalik musibah ini ? Ditambah lagi dengan pakar-pakar para normal, peramal Hong Sui yang rame4-rame bikin prediksi yang intinya bahwa Tahun 2014 adalah Tahun Bencana.

Apapun yang terjadi semua sudah kehendaknya dan kami para sukarelawan tidak akan berdiam diri manakala saudara-saudaram kami tertimpa bencana, mari kita rapatkan barisan menolong saudara kita yang sedang diuji dengan musibah.

Semoga semua musibah ini akan segara berakhir, dan mari kita tundukan kepala memanjatkan do’a kahadirat Illahirobbi memohon perlindungannya atas segala cobaan hidup didunia sambil instropeksi apakah yang kita lakukan selama ini sudah pener ?!

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Admin.

 

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar

Gelombang Tinggi, Pelayaran Lumpuh Total

Gelombang tinggi di Laut Jawa bagian tengah hingga timur terus meningkat, bahkan akibat munculnya Badai Narelle hingga sepekan mendatang diperkirakan akan mencapai 7 meter.

Gelombang tinggi ini menyebabkan kondisi pelayaran mengalami kelumpuhan total dan air laut pasang setinggi 1 meter.

Pemantauan Media Indonesia di pantura, Kamis (10/1), gelombang Laut Jawa kian mengganas. Jika sebelumnya, Rabu (9/1), ketinggian gelombang maksimum mencapai 5 meter, terutama pada bagian tengah hingga timur, kini meningkat menjadi 6 meter bahkan hingga sepekan mendatang dapat mencapai ketinggian 7 meter dari kondisi normal.

Akibat munculnya Badai Narelle yang terjadi Samudra Indonesia, Selatan Jawa dan bergerak ke Barat Daya ini, gelombang tinggi tidak dapat terelakkan lagi, sehingga seluruh pelayaran akan mengalami kelumpuhan total. Dengan kondisi gelombang saat ini saja pelayaran baik penyeberangan antarpulau maupun perikanan sudah mulai lumpuh.

Di beberapa pelabuhan penyeberangan di Jawa Tengah baik Semarang maupun Jepara, telah mengalami penundaan keberangkatan hingga waktu yang belum ditentukan.

Demikian juga dengan seluruh kapal nelayan baik berukuran besar dan kecil memilih sadar di beberpa pelabuhan perikanan sepanjang pantura karen khawatir terjdinya mudibah.

Akibat terjadinya penundan keberangkatan kapal penyeberangan tersebut, puluhan truk tertahan di kedua pelabuhan di Jawa Tengah, sebagian truk bermuatan sembako, sayuran dan barang kelontong serta peti kemas memilih bertahan di lapangan parkir pelabuhan dan sebagian lainnya pulang kembali ke garsi masing-masing.

Data yang dihimpun dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi  Maritim Klas II Semarang melaui Prakirawan Winarti, Kamis (10/1), menyebutkan akibat gelombang tinggi di Laut Jawa tersebut mengakibatkaan potensi banjir air laut pasang (rob) di sepanjang pesisir utara hingga ketinggian 1 meter.

Secara umum keringgian gelombang Laut Jawa di pelabuhan Tanjung Emas Semarang, demikian Winarti, mencapai 1,5 – 3,0 meter, namun untuk gelombang bagian tengah hingga ke timur dapat mencapai 6 meter bahkan dengan kemunculan Badai Narelle ketinggian gelombang daapat mencapai 7 meter.

“Kecepatan angin dari Barat ke Barat Laut berkisar 11 – 15 knots dan maksimum 18 knots dengan suhu udara rata-rata 28 derajat celcius,” kata Winarti.

Administrator Pelabuhan Tanjung Emas Semarang Karolus Sengaji mengatakan telah mengeluarkan larangan kapal kecil dengan bobot kurang dari 5 Gross Ton berlayar, bahkan setelah cuaca buruk di sekitar Laut Jawa kapal berkuran lebih besar pun diminta untuk mempertimbangkan pelayaran.

Akibat badai dan gelombang tinggi di laut Jawa tersebut, ratusan kapal baik kapal pengangkut batubara maupun kapal nelayan yang sudah terlanjur berlayar dsan berada di tengah lautan untuk sementara bersembunyi di pulau-pulau kecil di Laut Jawa.

Di Pelabuhan Bajak, Desa Kemojan, Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara tercatat sedikitnya 40 kapal touckboat batu bara dari Kalimantan dengan tujuan PLTU Tanjung Jati  II Jepara bersembunyi disana untuk menghindari gelombang tinggi dan badai yang semakin meningkat.

Hisyam, 46, seorang guru di Kepulauan Karimunjawa, Jepara mengatakan sedikitnya 80 kapal kan jenis poursesine dengan bobot 60 -120 grosston (GT) asal Pekalongan yang sedang berlayar di Laut Jawa bagian timur juga bersembunyi di beberapa pulau kecil yang ada di sana. (Akhmad Safuan/OL-10) – Metrotvnews.com

Dipublikasi di Berita terkini | Meninggalkan komentar

Enam Kapal Berlindung di Pulau Panjang Jepara

Enam Kapal Berlindung di Pulau Panjang JeparaCuaca buruk kembali melanda perairan Jepara dan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Pada Kamis (10/1/2013), enam kapal berlindung di Pulau Panjang yang berjarak sekitar 2 mil (3,21 kilometer) dari Pantai Kartini, Jepara.

Syahbandar Pelabuhan Jepara Dwiyanto mengatakan, empat kapal berupa kapal penarik tongkang batubara milik PLTU Tanjung Jati B, Jepara. Dua kapal lain adalah kapal nelayan dari daerah lain.

Mereka berlindung di Pulau Panjang sejak 4 Januari. Hal itu dilakukan untuk menghindari gelombang tinggi di perairan Jepara.

“Berdasarkan infomasi BMKG Jawa Tengah, gelombang di perairan 3-5 meter. Kondisi cuaca seperti itu berlangsung pada 7-14 Januari,” kata Dwiyanto. – KOMPAS.com

Dipublikasi di Berita terkini | Meninggalkan komentar

CUACA BURUK: Nelayan Jepara Kehilangan Penghasilan

Seorang nelayan asal Desa Tubanan, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, Nur Hadi mengungkapkan para nelayan sudah menghentikan aktivitasnya melaut sejak 6 hari yang lalu, menyusul cuaca laut yang memburuk.

”Para nelayan tidak bisa mendapatkan penghasilan selama beberapa hari mendatang,” ujarnya seperti dikutip dari Antara, Minggu (13/1/2013). Ia mengakui, mendapatkan bantuan beras dari pemerintah. Akan tetapi jumlahnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup anggota keluarganya dalam jangka waktu sepekan lebih.

“Mudah-mudahan, cuaca laut segera membaik dan aman untuk melaut agar para nelayan tidak menganggur terlalu lama,” ujarnya.

Ia mengakui, selama musim baratan terjadi tidak ada aktivitas lain yang bisa mendatangkan penghasilan tambahan.

Untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, dia terpaksa utang atau menggadaikan barang berharga agar anggota keluarganya masih bisa makan selama tidak melaut.

Camat Karimunjawa, Jepara, Nuryanto mengakui, warganya yang berprofesi sebagai nelayan memang tidak melakukan aktivitas seperti biasanya menangkap ikan karena ombak tinggi atau biasa disebut musim baratan.

Bahkan, lanjut dia, ada beberapa nelayan yang belum bisa pulang dan masih berada di Jepara karena gelombang laut masih tinggi.

Untuk itu, kata dia, anggota keluarganya dibantu beras dari pemerintah agar kebutuhan makan selama beberapa hari bisa tercukupi.

Kondisi cuaca di wilayah Perairan Jepara, Jawa Tengah, belum aman untuk para nelayan yang hendak melaut, karena gelombang air laut di daerah setempat masih tinggi. “Hingga kini, gelombang air laut di Perairan Jepara masih cukup tinggi karena rata-rata ketinggiannya antara 4–5 meter,” ujar Syahbandar Jepara Dwiyanto.

Bahkan, lanjut dia, cuaca di perairan Laut Jepara saat ini tergolong masuk warna ungu yang menandakan ketinggian gelombang ombaknya bisa lebih dari lima meter. Ketika ketinggian gelombang ombaknya kurang dari lima meter, katanya, akan masuk kategori warna merah. (Antara/dba)

Dipublikasi di Berita terkini | Meninggalkan komentar

CUACA BURUK: Perairan Jepara Belum Aman Untuk Melaut

Kondisi cuaca di wilayah Perairan Jepara, Jawa Tengah, belum aman untuk para nelayan yang hendak melaut, karena gelombang air laut di daerah setempat masih tinggi.

“Hingga kini, gelombang air laut di Perairan Jepara masih cukup tinggi karena rata-rata ketinggiannya antara 4–5 meter,” ujar Syahbandar Jepara Dwiyanto seperti dikutip dari Antara, Minggu (13/1/2013).

Bahkan, lanjutnya, cuaca di perairan Laut Jepara saat ini tergolong masuk warna ungu yang menandakan ketinggian gelombang ombaknya bisa lebih dari lima meter. Ketika ketinggian gelombang ombaknya kurang dari lima meter, katanya, akan masuk kategori warna merah.

Berdasarkan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi Jateng, katanya, cuaca seperti itu akan berlangsung hingga Senin (14/1).

Dengan demikian, ujarnya, rencana keberangkatan Kapal Motor Penumpang (KMP) Muria akan berlayar pada Rabu (16/1) juga harus disesuaikan dengan kondisi yang ada.

“Jika cuaca laut mendukung, tentunya akan diizinkan beroperasi. Sebaliknya, jika gelombang ombak masih tinggi dan dinilai tidak aman untuk keselamatan penumpang tentunya akan dilarang beroperasi,” ujarnya. (Antara/dba)

Dipublikasi di Berita terkini | Meninggalkan komentar

2 ABK Tirta Samudera XXI Ditemukan Tewas & 9 Hilang

Ilustrasi (Foto: Ist)Dua jenazah anak buah kapal (ABK) Tirta Samudera XXI yang tenggelam di Perairan Karimunjawa Jepara, dievakuasi menuju Pelabuhan PLTU Sluke, Rembang, Jawa Tengah.
Dua ABK tewas tersebut ditemukan armada kapal lain yakni KM Budi Rahmadi. Lalu kedua jasad itu dijemput kapal tag boat penarik Tongkang PLTU. Keduanya teridentifikasi bernama Heri Martijanto, asal Magelang, dan Hasanudin, warga Medan, Sumatera Utara. Sementara itu, sembilan ABK masih hilang.

Kecelakaan laut yang menimpa Kapal Tirta Samudera XXI, bermula saat kapal tersebut mengangkut kelapa sawit dari Belitung menuju Gresik, Jawa Timur. Namun, kapal tenggelam di sebelah barat Pulau Karimunjawa, Jepara, karena dihantam ombak besar, pada Kamis, 10 Januari lalu, sekira pukul 23.00 WIB.

Petugas Syahbandar Rembang, Eko Teguh Susanto, mengatakan, 12 ABK (sebelumnya ditulis 15 orang) termasuk nahkoda sempat menyelamatkan diri menggunakan life craft atau semacam bola apung. Mereka kemudian terseret ombak ke arah timur. Seorang juru mudi kapal, Aji Handoko Suryo Iskandar, diselamatkan ke Jakarta oleh Kapal Tanto Star yang kebetulan melintas.

Kedua jenazah dibawa ke kamar mayat Rumah Sakit dr R Sutrasno, Rembang, untuk menunggu diambil pihak keluarga, Senin (14/1/2013) siang. Petugas Badan SAR Nasional akan melanjutkan pencarian, karena masih sembilan ABK yang belum ditemukan. Mereka adalah:

1. Mutaqien, warga Solo, Nahkoda.
2. Alfensius Panjaitan, Mualim I.
3. Pengizinta Sitepu, Mualim II.
4. Izak Steven, Kepala Kamar Mesin.
5. Alim Yusuf, Juru Mudi.
6. Mohammad Lutfi Ulhar Iskandar, Juru Mudi.
7. Ibrahim, Kadet Mesin.
8. David Banjarnahor, Kadet Dek.
9. Hambali, Juru Masak.

Dipublikasi di Berita terkini | Meninggalkan komentar

Mayat Tanpa Identitas Ditemukan di Pantai Bondo

Belum usai persoalan musibah berurutan sejak Pantai Bandengan, Banyu Tawa, Songgo Langit, dan Bate Gede, hari ini Rabu (2/1) kembali ditemukan mayat di pantai Ombak Mati – Bondo.
Awalnya, sekira pukul 14.00 WIB, sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang berduaan di pantai Ombak Mati melihat sesuatu hanyut dari tengah laut. Karena penasaran, barang tersebut ditunggu hingga ke tepi. Karena dikira sebuah boneka, mereka bergegas mengambilnya. Saat mulai memegangnya  barang tersebut mengeluarkan bau tidak sedap layaknya bangkai. Setelah diamati, ternyata mayat seorang laki-laki. Sontak saja mereka lari karena ketakutan.
Melihat hal tersebut, Tamban (Kancilan) dan Dibyo (Wedelan) yang sedang bekerja didekat lokasi tersebut mendekat. Setelah diyakini benar-benar mayat, Dibyo dan Tamban melaporkan hal tersebut pada warga sekitar. Selanjutnya warga melapor ke Petinggi desa Bondo.
Menurut saksi mata, Dibyo, mayat tersebut adalah seorang laki-laki sekitar 29 tahun. Mengenakan kaos lengan panjang warna merah, celana pendek kecoklatan. Karena wajah sudah rusak, Dibyo tidak bisa mengenalinya. Rambut juga sudah habis, tinggal jambang dan simbar dada yang masih kelihatan utuh.

“Saya tidak bisa mengenali wajahnya. Karena rusak parah. Saya dan pak Tamban melaporkan ke warga sekitar” ungkap Dibyo, orang kedua setelah dua orang pertama lari ketakutan tidak bisa dimintai keterangan.

Setelah mendapat laporan dari warga, Petinggi Desa Bondo Bambang, langsung melaporkan hal tersebut pada Polsek Bangsri dan Tim SAR untuk melakukan evakuasi.
Dipublikasi di Berita terkini | Meninggalkan komentar

Angin Kencang Rusak Beberapa Rumah

Angin kencang yang terjadi sejak Rabu (9/1) malam hingga Kamis (10/1) merobohkan satu rumah dan merusak dua rumah warga di lokasi berbeda. Selain merobohkan rumah, angin juga menumbangkan beberapa pohon.
Rumah roboh diketahui milik Wasdi, 37, RT 3/RW I Desa Bulak Baru, Kecamatan Kedung. Dua rumah rusak berat masing-masing milik Mustam, 72, RT 1/RW IV Desa Pekalongan, Kecamatan Batealit dan Rifa’an, 35, RT 5/RW VI, Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan. Sementara pohon tumbang di beberapa jalan protokol Kudus-Jepara dan Batealit-Tahunan.
Korban sekaligus putra dari Mustam, Ahamad Munif, 37, menceritakan sekitar pukul 04.00 tiba-tiba pohon kelapa dan pohon rambutan di sampaing kanan rumah roboh dan jatuh tepat di atas atap rumahnya. Akibat tertimpa pohon inilah atap rusak parah dan mematahkan kayu-kayu penyangga geteng.

“Saat itu dirinya sedang tiduran. Sementara kedua orang tua saya pergi ke masjid,” ujarnya.

 

Angin kencang yang terjadi sejak Rabu (9/1) malam hingga Kamis (10/1) merobohkan satu rumah dan merusak dua rumah warga di lokasi berbeda. Selain merobohkan rumah, angin juga menumbangkan beberapa pohon.
Rumah roboh diketahui milik Wasdi, 37, RT 3/RW I Desa Bulak Baru, Kecamatan Kedung. Dua rumah rusak berat masing-masing milik Mustam, 72, RT 1/RW IV Desa Pekalongan, Kecamatan Batealit dan Rifa’an, 35, RT 5/RW VI, Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan. Sementara pohon tumbang di beberapa jalan protokol Kudus-Jepara dan Batealit-Tahunan.
Korban sekaligus putra dari Mustam, Ahamad Munif, 37, menceritakan sekitar pukul 04.00 tiba-tiba pohon kelapa dan pohon rambutan di sampaing kanan rumah roboh dan jatuh tepat di atas atap rumahnya. Akibat tertimpa pohon inilah atap rusak parah dan mematahkan kayu-kayu penyangga geteng.
“Saat itu dirinya sedang tiduran. Sementara kedua orang tua saya pergi ke masjid,” ujarnya.
Akibat reruntuhan atap rumah, Munif mengalami luka robek di bagian kepala dan luka-luka ringan di wajah dan lecet di kaki. Setelah kejadian itu ia meminta pertolongan warga untuk memangkas pohon yang menimpa rumah dan beberapa pohon kelapa miliknya. Sekitar pukul 06.00, batang pohon kelapa berhasil di gergaji dan warga bergotongroyong perbaiki rumah.

“Semua pohon kelapa yang ada di samping rumah saya suruh tebang. Khawatir kalau nanti roboh lagi,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, sebelum kejadian angin kencang sudah terjadi sejak Rabu sore dan masing berlangsung hingga pagi hari. Perasaan was-was sudah ia rasakan sebelum kejadian. “Sejak magrib (Rabu) angin berhembus kencang, suaranya wus-wus kayak suara gemuruh. Tidak tahunnya pohon kelapa samping rumah roboh,” terangnya.
Kasi Kedaruratan pada Badan Penanggulangan Bencana Alam daerah (BPBD) Jepara M Toha menambahkan selain merusah rumah di Desa Pekalongan. Satu rumah warga masing-masing di Desa Karangrandu dan Desa Bulak Baru. Menurut korban yang ia temuai, Rif’an, bahwa kejadian rumahnya tertimpa pohon mangga sekitar pukul 05.00 angin berhembus kencang dari arah barat. Tidak kuat menahan terpaan angin, pohon mangga di depan rumahnya ambruk dan menimpa rumah bagian ruang tamu. “Seluruh genting dan atap ruang tamu rusak parah,” tandasnya.
Sekitar pukul 06.30 pasukan penolong (Basarnas, BPBD Jepara, Sar Jepara, Jepara Rescue, Tagana, Ubaloka, TNI, dan Polsek) dibantu warga masyarakat bergotongroyong memotong batang pohon mangga dan memperbaiki rumah. Beruntung saat kejadian korban berada di luar rumah.
Sekretaris Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Jepara Haryoto didampingi stafnya Susanto menambahkan sebelum dua kejadian itu, sekitar pukul 20.30 rumahnya roboh diterjang angin. Robohnya rumah tersebut diakibatkan diterjang angin dengan kondisi rumah terbuat anyaman bambu, kerangka rumah dari kayu doyo, atap rumah dari kayu sengon dan waru. Sekaligus rumah tanpa pondasi.
“Pemilik rumah mengaku sebelum kejadian, angin kencang berhembus dari arah barat,” tegasnya.
Atas musibah ini, pihaknya, membantu ketiga pemilik rumah bantuan masing-masing Rp 1 juta. Anggaran dana tersbut diambilkan dari bulan dana PMI.”Bantuan langsung diserahkan Bupati Jepara Ahmad Marzuqi,” ucapnya.
Atas kejadian ini, kerugian materi mencapai belasan juta rupiah. Karena rumah yang ruak berat dan roboh terbuat dari dinding kayu.

 

Dipublikasi di Berita terkini | Meninggalkan komentar